Cara Memakai Hijab Yang Benar Menurut syar'i

Cara Memakai Hijab Yang Benar Menurut syar'i

Hijab adalah kata pinjaman dari bahasa Arab yang berarti penghalang. Pada beberapa negara berbahasa Arab serta negara-negara Barat, kata "hijab" lebih sering merujuk kepada kerudung yang digunakan oleh wanita muslim, namun lebih tepatnya, hijab adalah tatacara berpakaian secara keseluruhan yang sesuai dengan tuntunan agama.

Penomena saat ini, hijab tidak lagi atas dasar perintah menutup aurat semata. Namun banyak model hijab yang dikemas secara modern, sehingga menampilkan beragam motif serta gaya, dengan kata lain, hijab lebih cenderung untuk mementingkan fashion.

Menurut Muhammad Nashiruddin Al Albany kriteria jilbab yang benar hendaklah menutup seluruh badan, kecuali wajah dan dua telapak, jilbab bukan merupakan perhiasan, tidak tipis, bahan tidak tembus pandang, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak disemprot parfum yang berlebihan, tidak menyerupai pakaian kaum pria atau pakaian wanita-wanita kafir dan bukan merupakan pakaian untuk mencari popularitas diri.

Islam, sesungguhnya menyukai keindahan dan Islam menyuruh kita berpakaian yang rapi dan bersih, namun tidak untuk bermegah-megah dan sombong. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan memandang kepadanya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini pun berlaku untuk kaum laki-laki. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat". [HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim]

Untuk menghindari terjadinya sikap sombong, Rasulullah SAW melarang orang Muslim mengenakan pakaian megah yang dapat menimbulkan sikap sombong dan angkuh serta membanggakan diri terhadap orang lain dengan bentuk-bentuk lahiriah yang kosong.

Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa mengenakan pakaian untuk kemasyhuran (kesombongan), maka Allah akan mengenakan padanya pakaian kehinaan pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar, “Pakaian apakah yang boleh saya kenakan ?” Ibnu Umar menjawab, “Pakaian yang kiranya kamu tidak dihina oleh orang-orang bodoh (karena sangat buruk dan kumal), dan tidak dicela oleh orang bijak (karena melampaui batas).” (HR. Thabrani)

No comments